Would You Try on My Shoes
Would you try on my shoes?
Ketika berbicara tentang garis takdir seseorang, maka kita akan dihadapkan pada berbagai bentuk tanya "kenapa" hingga pada akhirnya kita akan dihadapkan pada dua pilihan, menerima takdir itu dengan segala bentuk hikmahnya, atau berputus asa dan memilih berbagai rupa ekspresi untuk tidak terima.
Ketika kita mampu membaca hikmah disebaliknya baru satu persatu kalimat tanya akan berubah menjadi "oh, mungkin begitu rupanya". Namun proses ini tentu bukan hal yang mudah, bahkan sangat tergantung pada keyakinan "beyond the logic" karna memang jika berkait iman, masih banyak hal bahkan dalam diri kita sendiri yang tidak mampu dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.
Kita tidak perlu menang atas takdir orang lain, berpayah-payah agar bagaimana bisa menjadi seperti A atau B, lalu frustasi jika tidak mencapai prestasi yang sama.
Saya tidak mengatakan kita tidak boleh berjiwa kompetitif, namun jauh dibalik itu semua menurut saya yang paling penting adalah memenangkan pertarungan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri di waktu-waktu yang sudah "Dia tentukan". Meski kita juga ga tahu itu kapan.
Saya juga tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh ingin seperti yang lainnya, tapi kita juga harus tahu bahwa setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya.
Setiap proses dan tahapan kehidupan manusia berbeda-beda. Seperti yang sudah sering di gaung-gaungkan bahwa kita punya kehidupan yang tidak sama dan tidak mungkin menggunakan sepatu yang sama.
Oleh itulah ada sebuah kata bernama Sabar, yang keberadaannya tak berbatas dan implementasinya berkaitan erat dengan keyakinan iman setiap diri. Ini juga disebutkan dalam bait surat CintaNya "Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung"
Saya tidak mengatakan bahwa jika masih mempertanyakan batas sabar artinya kita tidak beriman. Tentu tidak begitu. Bukannya kita tidak boleh marah, kecewa, sedih dan berbagai ekspresi emosi lainnya. Boleh, bahkan semua emosi itu valid di dalam surat cintaNya. Namun, pilihan mengekspresikan rasa adalah milik kita.
Allah said "laa yukallifullohu nafsan illa wus'aha", Allah tidak akan membebankan seseorang kecuali sesuai batas kesanggupannya. Maka inilah pentingnya mengimani qada (hal yang belum terjadi) dan qadar (hal yang sudah terjadi)
Mari bertumbuh!
Samarinda, 19 sya'ban 1447H
Komentar
Posting Komentar